GEMA Wuwuk Barat Peringati 177 Tahun Pendidikan Masuk Wuwuk


Oleh: Kalfein M. Wuisan

Bagi sebagian Tou Wuwuk tanggal 23 September, mungkin hanya sekedar penanda waktu biasa. Karena tanggal ini warnanya sama dengan tanggal-tanggal lain yang tidak menandakan hari libur atau perayaan hari besar. Hal ini mungkin terjadi karena tak ada lagi yang tahu cerita pada 177 tahun silam.  Di salah satu tulisan fenomenal tentang Minahasa yaitu Tontemboansche Teksten karya J. Alb. T. Schwarz,  kita bisa menemukan cerita tentang yang terjadi pada 177 tahun lalu itu. Berikut penggalan salah satu paragraf dalam tulisan tersebut :

"Asi Serap September taun mariwu uwalungaatus telungapulu wo uwalu ja tumotol winuka em pasitjolaan Genootschap an ndoong im Buwuk. Sapaka si katare mewali, sia si makangarangan Hermanus Lintjewas, an Uwuran bo mai. Si mawali kumarua ja makangarangan Adam Jacob, ni tumow an Tanawangko', katelu kaai si Hermanus Lintjewas ke'. Si kumaepat ja si Samuel Walintukan, si Kumalima si Albert Rumengan".

Tulisan yang ditulis dalam bahasa Tontemboan dengan menggunakan ejaan lama tersebut, mengungkap dan menceritakan apa yang terjadi pada tahun 1838 di Wuwuk serta siapa saja aktor intelektual yang terlibat di dalamnya. Pada bulan September 1838, dibukalah di Wuwuk Sekolah Genootschap. Genootschap artinya rakyat atau perkumpulan. Sekolah Genootschap adalah sekolah rakyat yang dikelolah Nederlandsch Zendiggenootschap (Badan Penginjilan Belanda). Ini kemudian menandai dimulainya pendidikan formal sebagai sebuah institusi di desa Wuwuk.

Schwarz dalam tulisannya menulis bahwa ada beberapa orang yang merupakan tokoh-tokoh awal terkait berdiri dan masuknya pendidikan formal di Wuwuk. Mereka adalah Hermanus Lintjewas (asal Uwuran yang pertama kali datang dan mengajar), Adam Jacob (asal Tanawangko) dan Albert Rumengan.

Kemudian untuk mengenang masuknya pendidikan di Wuwuk, pemerintah Wuwuk pada masa pemerintahan Hukum Tua, Welly Oroh, bersama beberapa tokoh intelektual Wuwuk pada saat itu, mengadakan seminar untuk memutuskan tanggal berapa di bulan September yang akan ditetapkan sebagai Hari Masuknya Pendidikan di Wuwuk. Maka dalam seminar tersebut diputuskan dan ditentukanlah tanggal 23 September 1838 sebagai Hari Pendidikan Wuwuk.

Kemudian dalam rangka memperingati hari pendidikan tersebut, pemerintah Wuwuk Barat lewat Generasi Muda (Gema) Wuwuk Barat melaksanakan acara peringatan pada Sabtu (26/9) lalu. Adapun kegiatan yang dilaksanakan yaitu ziarah ke makam tokoh pendidikan Wuwuk, kegiatan bersih-bersih situs budaya desa dan acara seleberasi pada malam hari sebagai acara puncak. Agenda pertama dimulai pada pagi hari dengan berziarah ke makam para tou Wuwuk yang berjasa di bidang pendidikan. Makam yang dikunjungi antara lain makam guru Leendert Rompas, makam Prof. Drs. A. L. Tampi, makam Prof. Drs. J. E. Ratag dan terakhir makam guru Albert Rumengan. Ziarah ini dimaksudkan untuk menghormati jasa para tokoh pendidikan yang turut memajukan pendidikan di Wuwuk. Usai ziarah, dilanjutkan dengan kegiatan bersih-bersih di kompleks Tumani an ndoong Wuwuk. Kegiatan bersih-bersih di kompleks Tumani an ndoong, dilaksanakan pada siang hari dan diikuti oleh sebagian generasi muda Wuwuk waya. Upaya ini dilakukan untuk memelihara situs budaya yang ada di kampung. Serta memberikan kesadaran kepada seluruh generasi muda untuk selalu mengingat identitas sebagai tou Wuwuk.

Puncak kegiatan hari pendidikan di Wuwuk, dilaksanakan pada malam hari, dalam bentuk seleberasi sederhana. Acara dimulai sekitar jam 6 sore dan dihadiri oleh tua-tua kampung, unsur pemerintah, generasi muda dan masyarakat. Dalam acara tersebut, opa Welly Oroh, mewakili unsur tua-tua kampung menjadi narasumber utama. Ia kemudian menjelaskan latar belakang kenapa tanggal 23 September di peringati sebagai Hari Pendidikan Wuwuk.

“Tanggal 23 dipilih dan ditentukan oleh sebuah seminar yang diketuk oleh Gubernur Sulut waktu itu” ungkap opa Welly. Ia juga menambahkan bagi orang Wuwuk, bulan September adalah bulan ‘Kerir taan aruy’. “Dalam sejarah orang Wuwuk, September adalah bulan kerir namun aruy. Kerir artinya ‘ndk boleh tasalah, sedangkan aruy berarti baik” tambah opa Welly.

Dalam kesempatan yang sama, Jantje Iroth selaku Hukum Tua Wuwuk Barat, mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut. “Pemerintah Wuwuk Barat mengapresiasi penuh usaha Gema Wuwuk Barat dalam menyelenggarakan kegiatan seperti ini” ucap Hukum Tua Jantje. Ia juga berjanji akan memasukan peringatan ini dalam program pemerintahannya. “Pemerintah akan berusaha memasukan peringatan Hari Pendidikan Wuwuk sebagai program kerja agar supaya tetap berlangsung tiap tahun”, tambahnya. Usai kesempatan bicara hokum tua Wuwuk barat, acara kemudian ditutup dengan doa syukur oleh Pdm. Danni Rompas.

Sebelum acara berakhir, banyak apresiasi yang diberikan pemerintah dan masyarakat atas pelaksanaan kegiatan ini. Ventje Rumengan, selaku aparat desa Wuwuk Barat, berharap agar kegiatan seperti ini harus rutin dilaksanakan. “Acara peringatan Hari Pendidikan Wuwuk harus dilakukan setiap tahun, supaya timbul kesadaran masyarakat untuk menghargai jasa para pendahulu Wuwuk”, tegas om Ventje. Di sisi lain, Yan Egeten mewakili masyarakat, mengungkapkan dukungan penuh terhadap upaya Germud Wuwuk Barat. “Sebagai masyarakat, saya mendukung penuh upaya Germud Wuwuk Barat dalam memelihara iklim intelektualitas dan berkebudayaan di desa tercinta ini”, ucap om Yan selaku juga Meweteng jaga III.

Peringatan hari masuknya Pendidikan di Wuwuk ke 177 tahun, menjadi salah satu tonggak sejarah di Wuwuk Barat. Sebab, acara peringatan ini sudah lama tidak dilaksanakan sejak tahun 1980-an. Sehingga, harapan masyarakat dan Germuda Wuwuk Barat, kiranya acara peringatan ini dalam rutin dilaksanakan guna mengingat dan menghargai jasa Tou Wuwuk yang telah berbuat dalam memajukan pendidikan Wuwuk.


Komentar


Sponsors

Life Style

            Mengusung tema integritas yang mumpuni, Tim Dream ...

Sponsors