Benteng Portugis dan "New Spain"

Jejak Bangsa Eropa di Amurang


Laporan: Rikson Karundeng

Kota Amurang memiliki keunikan. Wajahnya yang sederhana, memikat banyak pelancong untuk menyinggahinya. Saat menatap ke arah laut, tapak perairan teluk Amurang yang tenang. Namun dalam ketenangannya, sesungguhnya ia menyimpan banyak misteri masa lampau. Data sejumlah literatur membuktikan bahwa teluk ini telah menjadi tempat beraktifitas berbagai bangsa di belahan dunia. Salah satu fakta historis yang menjadi bukti adalah “Benteng Portugis” yang terletak di Kelurahan Uwuran Satu Amurang.

Benteng Portugis ini memang tak sulit untuk menemukannya karena berada di pusat kota. Pasar di pusat kota Amurang adalah salah satu petunjuk penting. Sebab benteng ini berada tepat di samping pasar tersebut. “Benteng luar biasa ini memang sangat mengagumkan. Dibangun orang-orang Portugis kira-kira tahun 1500-an namun saat ini masih terlihat utuh,” terang sejarawan muda Minahasa, Bodewyn Talumewo.

Benteng yang masih berdiri kokoh itu berada tepat di bibir teluk Amurang. Benteng itu kini memang diam membisu tapi sejumlah catatan sejarah tentang eksistensi orang-orang Portugis di tanah Minahasa dan heroisme Tou (orang) Minahasa dalam perang mengusir pengusik tanah dan bangsanya, tergores di sana.

Dari atas benteng ini, tampak dengan jelas pantai teluk Amurang dan sebagian Kota Amurang. Di bagian utara benteng, terdapat steleng-steleng tempat dimana meriam biasa diletakkan.

“Di atas benteng dahulu ada tangga dimana kita bisa turun ke dalamnya namun jalan masuk itu sudah ditutup. Begitu juga di bagian bawah sebelah Selatan ada pintu masuk ke dalam benteng tapi telah lama ditutup mati. Menurut cerita orang-orang tua, dahulu mereka sering masuk ke dalam benteng dan mereka melihat di dalamnya ada tengkorak-tengkorak dan senjata-senjata tua,” terang Neti Frans, salah seorang warga setempat.

Menurut data sejarah yang ada, pada tahun 1518, orang-orang Portugis masuk ke Wenang (Manado kini, red) dengan maksud hendak menyewa sebidang tanah. Tetapi tujuan untuk menyewa tanah di Wenang gagal karena kepala Walak Ruru-Ares tidak setuju untuk memberikan mereka sebuah tempat. Setelah kegagalan ini Portugis kemudian melakukan perjalanan ke Uwuran (sekarang Amurang) dan di sana mereka mendirikan Benteng Amurang.

Ketika mereka tiba di Uwuran, Portugis membawa lebih banyak pedagang dan pimpinan rohani dari pada serdadu. Saat itu, mereka belum berani memasuki daerah pedalaman. Mereka hanya mampu mendirikan benteng batu di tepi pantai, tapi dikemudian hari benteng tersebut telah menjadi pusat penyimpanan perbekalan dan serdadu, tempat merancang strategi penaklukan bahkan benteng pertahanan orang-orang Portugis saat melakukan penetrasi ke wilayah pedalaman Malesung (sebutan untuk wilayah Minahasa dahulu, red).

“Bastion (benteng) tersebut berketinggian sekitar sepuluh meter dari permukaan tanah, dengan luas sekitar sepuluh kali lima belas meter. Yang disebut benteng ini sebenarnya cuma bagian kecil dari benteng yang telah runtuh dan dibongkar, yakni menara meriamnya,” kata Talumewo.

Dahulu di dalam benteng dipersenjatai dengan meriam-meriam yang menghadap ke perairan teluk Amurang, untuk menangkis serangan lawan,  terdapat pula berbagai bangunan, barak, gudang dan fasilitas militer lainnya. Termasuk kapel (gereja kecil). Kapel tersebut dipastikan berdiri di lokasi dimana sekarang berdiri dengan megah gereja GMIM Sentrum Syalom Amurang, sehingga disebut-sebut merupakan gereja pertama dan tertua yang dibangun di Tanah Minahasa dan Sulawesi Utara pada umumnya.  Kapel Portugis itu berada pas di bawah altar dari gedung gereja GMIM Sentrum.

Dalam sejumlah catatan, sejarawan Minahasa Yan Mangindaan mengatakan, awalnya pendirian benteng dilakukan bangsa Portugis ketika mereka masuk ke daerah Sindulang (sebutan untuk Amurang dahulu, red). Kemudian menyusul bangsa Spanyol mendarat di perairan Mobongo dan mendirikan benteng di sana, yang dinamai ‘New Spain’.

Nasib benteng New Spain sendiri terbilang sama tragis dengan Benteng New Amsterdam di Kota Manado, tinggal menyisakan reruntuhannya. Sisa-sisanya masih bisa ditengok dari bekas-bekas fondasinya. Dari reruntuhannya tergambar bilamana bekas Benteng New Spain ini terbilang cukup besar pula. Meliputi lokasi yang kini berdiri gereja GMIM Kawangkoan Bawah serta areal seputaran Jembatan Timbang Dishubtel Sulut, dengan areal dibatasi sungai Ranoiapo.(***)


Komentar


Sponsors

Sponsors