'Memerdekakan Tou Minahasa'

LSSB Bedah Goresan Pemikiran Tou Muda Minahasa


Manado, ME

Kampus  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado kembali menggeliat dengan sebuah kegiatan akademis ‘'angka'. Selasa (9/7), Laboratorium Sejarah Sosial Budaya (LSSB) fakultas tersebut menggelar bedah buku, “MEMERDEKAKAN TOU MINAHASA: Kumpulan Pemikiran Kaum Muda Minahasa”.  Sebuah karya hasil goresan 14 orang muda Minahasa.

Diskusi yang dipandu Sekretaris  LLSB, Drs Hentje Pangemanan MHum ini, menghadirkan Sejarawan Unsrat Drs Ferry Raymond Mawikere MHum MA dan Teolog serta Sosiolog Unsrat, Pdt Hans Weku STh PAG MSi sebagai pembahas.

“Melihat apa yang dibuat para penulis dengan buku ini, di generasi ini ternyata ada penulis-penulis terbaik,” kata Drs Ferry Raymond Mawikere MHum MA.

“Ini patokan sejarah intelektual di Minahasa. Kemampuan para penulis memandang masa depan, semua harus dimulai dengan kemerdekaan berpikir,” tambah Pdt Hans Weku STh PAG MSi.

Usai para pembahas mengupas isi buku tersebut, beberapa catatan kritis dan apresiatif juga dilontarkan sejumlah peserta bedah buku yang merupakan akademisi, mahasiswa dan sejumlah pegiat budaya di Sulawesi Utara.

“Saya apresiasi kerja penulis. Penulis mengalami sendiri apa yang ditulis. Berbeda dengan generasi penulis sebelumnya. Saya melihat munculnya publik intelektual dengan gagasan-gagasannya.
Saya tukang kritik, jadi sangat serius kalau memuji,” ujar antropolog Unsrat yang dikenal kritis, Drs Alex Ulaen DEA.

“Terjemahkan buku ini dalam bahasa anak-anak SMA dan SMP. Karena target untuk bermetamorforsa lebih baik adalah anak-anak muda,” usul Ulaen.

Kegiatan yang disuport Mawale Movement, Institut Kajian Budaya Minahasa (IKBM), Gerakan Minahasa Muda (GMM), Komunitas Waraney Wuaya dan Harian Media Sulut ini, ikut mendapat apresiasi dari Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unsrat, Dra Troutje A Totty MHum.

Sementara, penanggungjawab kegiatan, Katua LSSB  DR Ivan Kaunang MHum menjelaskan, kegiatan bedah buku seperti ini sangat penting. Tujuannya  mengapresiasi minat baca tulis dan melestarikan sejarah budaya lokal serta mendorong kesadaran semua pihak untuk peduli terhadap kajian-kajian sejarah dan budaya di daerah, menambah perbendaharaan buku sejenis dan mendorong tingginya intensitas kecintaan terhadap buku-buku kaki.

“Buku selalu hadir di setiap peradaban dan untuk sampai ke tangan pembaca tidaklah mudah melainkan melalui suatu proses yang panjang.
Bedah buku bagi perguruan tinggi bukanlah hal yang baru tetapi terbukti masih langka. LSSB coba menjawab tantangan itu dengan bedah buku.  Diharapkan budaya diskusi seperti ini lebih berkembang di dunia kampus,” tandas Direktur IKBM ini.

Buku “Mememerdekakan Tou Minahasa”  yang dimulai dengan sebuah puisi  “I Will Not Sell My Minahasa” karya Candra Rororoh ini, berisi 14 catatan dari 14 penulis yaitu, Matulandi Supit (Minahasa Dalam Gerak Zaman ), Riane Elean (Menafsir Ratapan Terakhir Sang Manguni), Daniel Kaligis (Minahasa, Mange Wisa Kou?), Ivan Kaunang (Merdeka(kah)Ke(budaya)an Minahasa?), Greenhill Weol ((Orang) Minahasa Harus Merdeka!), Meidy Y. Tinangon (Memerdekakan Tou Minahasa: Beberapa Pokok Pikiran), Yanny Marentek (Menemukan Kemerdekaan Hakiki Tou Minahasa:  Orang Muda Minahasa di Pentas Politik Praktis), Rikson Karundeng (Gereja Memerdekakan Tou Minahasa?: Sebuah Catatan Tentang Disorientasi Peran Gereja di Minahasa), Denni Pinontoan (Teologi Mapalus, Teologi Bersama Yang Membebaskan), Venly Massie (Spiritualitas Kristiani Dalam Kehidupan Bertani:  Kajian Teologis Peran Gereja Bagi Komunitas Petani), Ruth Wangkai (Pingkan Cermin Diri tou Minahasa: Upaya Menemukan Kembali Dignitas Tou Minahasa dalam Sosok Pingkan), Bodewyn Talumewo (Bangun Kebudayaan, Memerdekakan (Tou) Minahasa:  Sepenggal Kisah John F. malonda, Sastrawan-Budayawan Minahasa), Sofyan Jimmy Yosadi (Advokasi Terhadap Persoalan Tou, Tana’ dan Penanda Budaya Minahasa). (rikson)


Komentar


Sponsors

Sponsors