Diduga Gelapkan Uang Aset Desa, Kumtua Dilaporkan Ke Polisi


Warga Desa Tanamon Utara, Kecamatan Sinonsayang, melaporkan Djainudin Katili, Hukum Tua (Kumtua) setempat ke Kepolisian Resor (Polres) Minahasa Selatan (Minsel). Djainudin dilaporkan karena diduga telah menggelapkan uang aset desa.

 

Uang sebanyak Rp 69,8 juta yang diduga digelapkan merupakan barang bukti dalam putusan perkara pidana Nomor 65/PID/2013/PT.MDO.

 

Berdasarkan surat perintah kepada Kejaksaan Negeri Amurang Nomor Print R.1.17/Epp.3/11/2013, tanggal bulan November 2013 dalam perkara atas nama terdakwa Imran Ilato alias Acim melanggar pasal 372 KUHP.

 

Dalam berita acara yang diterbitkan Kejaksaan Negeri Amurang, bahwa barang bukti tersebut tidak diperlukan lagi untuk kepentingan penyidik/penuntutan karena perkaranya dihentikan penyidikan/penuntutannya/kesampingkan untuk kepentingan umum untuk pelaksanaan putusan Pengadilan Tinggi Manado Nomor 62/PID/ 2013/PN-TDO tanggal 5 Juli 2013 telah mengembalikan barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 69,8 juta kepada Nicolas Besi SH yang merupakan Advokat.

 

Setelah ada putusan tersebut warga kini mempertanyakan keberadaan uang tersebut. Yunus Ilato mewakili warga yang lain mengungkapkan, dalam setiap rapat uang tersebut selalu ditanyakan tapi jawaban Kumtua belum diambil. Pernyataan Kumtua bertolak belakang dengan surat dikeluarkan Kejaksaan Negeri Amurang bahwa uang tersebut sudah diserahkan.

 

"Kita dapat bukti ini dari kejaksaan pada tanggal 19 Juli lalu. Dari situlah ada petunjuk dan besoknya kita langsung laporkan ke pihak kepolisian," terangnya.

 

Dia menuturkan, dengan adanya surat berita acara dari kejaksaan, mereka kembali menanyakan uang tersebut. Namun jawaban Kumtua uang tersebut masih pada pengacara. Sementara pengacara saat dikonfirmasi warga mengatakan uang tersebut sudah diserahkan kepada Kumtua.

 

"Karena kita tidak tahu hukum makanya kita minta kepolisian mengusut kasus ini. Kita tidak mau masyarakat dibodohi," jelasnya.

 

Sedikit dia menceritakan, uang tersebut adalah uang penyewaan aset berupa kantor desa dan lapangan yang dijadikan tempat untuk menampung dan menjemur cengkih pada tahun 2012 oleh pengusaha asal Surabaya.

 

Kasat Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Minsel, AKP M Ali Tahir saat dikonfirmasi masalah ini membenarkan adanya laporan tersebut. Menurut dia kasus tersebut sementara pendalaman dalam tahap pemanggilan Kumtua sebagai terlapor dan pengacara yang diberikan kuasa untuk mengambil uang tersebut.

 

"Dari keterangan Kumtua uang tersebut masih apa pada pengacara. Dari keterangan Kumtua kita sudah menghubungi pengacara untuk menghadap. Nanti kita akan tanyakan kepada pengacara dimana dana tersebut. Kalau uang itu sudah dikembalikan harus ada pertanggungjawaban," tandasnya. (jerry sumarauw)


Komentar


Sponsors

Life Style

            Mengusung tema integritas yang mumpuni, Tim Dream ...

Sponsors