POLDA SULUT ‘LAWAN’ KEMENTERIAN P3A

Klaim Kasus ‘Pemerkosaan Berjamaah’ Tak Terbukti

Manado, ME
Kontroversi dugaan pemerkosaan seorang gadis Manado oleh belasan pria, semakin mengencang. Teranyar, Korps Bhayangkara menegaskan jika kasus kabur. Pernyataan ini seakan menendang fakta dan keterangan yang disajikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Republik Indonesia.
 
 
Kisah tragis yang dialami seorang perempuan muda berinisial STC alias Silvany, warga Kelurahan Titiwungan, Kecamatan Wenang Kota Manado, memantik beragam tanya di benak publik. Kasus ini dianggap membingungkan.
 
 
Sejumlah bukti untuk menguatkan kebenaran kasus ini telah dikantongi Kementerian P3A. Namun informasi itu tiba-tiba ditampik pihak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut). Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sulut, Kombes Pol Pitra Ratulangi, membantah kabar yang selama ini beredar ke publik. Ditegaskan, hasil visum dan pemeriksan oleh dokter ahli tidak ditemukan adanya tanda-tanda pemerkosaan terhadap korban benama Silvany.
 
 
"Dari hasil keterangan visum dan keterangan ahli menjelaskan bahwa tanda-tanda kekerasan secara kebidanan itu tidak ada. Kemudian keterangan dokter ahli yang memeriksa bahwa dalam kemaluan korban tidak ditemukan sperma sehingga kita tarik kesimpulan bahwa sampai saat ini tidak ada unsur-unsur perkosaan karena korban sendiri tidak menjelaskan dia diperkosa," terang Ratulangi, saat menggelar konferensi pers di Ruang Anev, Lantai I, Markas Polda (Mapolda) Sulut, Senin (9/5) kemarin.
 
 
Dijelaskan, kronologi kasus ini berdasarkan keterangan tujuh orang saksi. Awalnya Silvany berangkat dari Manado dijemput oleh dua orang rekannya yakni Yun dan Mey, menggunakan ‘taksi gelap’ menuju Gorontalo. Setibanya di salah satu hotel di Gorontalo, korban bersama Yun dan Mey dijemput oleh dua orang rekan lainnya. Saat berada di dalam kamar hotel, menurut keterangan Silvany, dia melihat ada alat hisap bersama narkoba jenis sabu.
 
 
Bersamaan itu juga ada empat orang laki-laki yang menurutnya tidak dikenal masuk ke dalam kamar tersebut. Karena orang-orang itu membuat kegaduhan, akhirnya mereka pindah ke hotel lainnya. Saat pindah hotel tersebut, korban tidak mau. Dan akhirnya, tangan Silvany ditarik paksa oleh rekannya, Yun dan Mey sehingga menimbulkan memar di pergelangan tangan.
 
 
"Memang menurut dokter ahli, ada tanda-tanda kekerasan di pergelangan tangan dan terdapat luka lama di bagian alat vitalnya (kemaluan korban, red)," ungkap Ratulangi.
 
 
Kini kasus ini sedang ditangani oleh penyidik dari Polda Sulut dan Polda Gorontalo, karena locus delictinya atau TKP-nya ada di Gorontalo. Diterangkannya, Polda Sulut dan Gorontalo menggelar kasus ini secara bersama-sama, Senin (9/5) malam kemarin, untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.  "Adanya dugaan keterlibatan dua oknum polisi dalam kasus ini belum bisa dibuktikan," pungkas pria berdarah Tondano, Tandengan ini.
 
 
Sementara itu, Kapolda Sulut Brigjen Pol Wilmar Marpaung, yang mengundang wartawan untuk meluruskan pemberitaan tentang laporan kasus pemerkosaan oleh ibu korban, menambahkan awalnya kasus ini dilaporkan ke Polresta Manado tanggal 30 Januari 2016 silam,  kemudian dilimpahkan ke Polda Sulut tanggal 16 Februari 2016.
 
 
DICEKOKI NARKOBA SEBELUM DIPERKOSA BERAMAI-RAMAI
 
Kisah pilu yang dialami STC dari keterangan pihak Polda Sulut, tersaji berbeda dalam penuturan orang tua korban. Peristiwa itu terungkap dalam konferensi pers yang digelar Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kementerian P3A RI bersama Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Sulut, di SwissBell Hotel, Manado, Sabtu (7/5).
 
 
Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) yang hadir dalam konferensi pers ini, ikut membawa orang tua korban kasus pemerkosaan tersebut. Di hadapan Kementerian P3A, BP3P Provinsi Sulut dan para jurnalis, orang tua korban menjelaskan kronologi kasus yang dialami anak mereka.
 
 
Kejadian bermula saat anaknya diajak oleh beberapa temannya pergi jalan-jalan ke Kota Gorontalo, 24 Januari 2016 silam. Korban pun sempat menolak untuk pergi tetapi karena terus didesak akhirnya menuruti permintaan temannya. "Saya kenal satu dari temannya itu karena rumah kami berdekatan. Kalau dari awal saya tahu akan seperti ini, pasti saya tak akan menginzinkan dia pergi," tutur ibu korban dengan nada kecewa.
 
 
Dari pengakuaan anaknya, sebelum menuju ke Kota Gorontalo, mereka singgah di Desa Bolangitan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Dari situ korban diberikan narkoba jenis sabu-sabu. "Anak saya menjelaskan bahwa dia tidak mau memakai narkoba itu, hanya karena sudah ditekan dan didesak dengan cara kasar akhirnya ia menurutinya," jelasnya.
 
 
Sewaktu anaknya telah mabuk dengan narkoba, saat itulah korban diperkosa secara bergilir. Bahkan korban mengatakan, perkosaan ini terus berlanjut sampai Kota Gorontalo. Di sana dirinya disekap di sebuah hotel dan diperkosa oleh banyak lelaki. "Jadi sewaktu anak saya sadar, mereka langsung memberikan narkoba kembali dengan cara memberikan suntikan pada bagian leher dan perut hingga anak saya kembali tak sadarkan diri," terangnya.
 
 
Korban menceritakan pada orang tuanya, pernah sekali berhasil melarikan diri dari dalam hotel, untuk meminta bantuan dari warga. "Sempat ditolong  warga sekitar, hanya karena pelaku dan teman-temannya datang dan menyebut anak saya adalah orang gila hingga warga pun mengembalikan dirinya pada mereka," ungkap ibu korban.
 
 
Kejadian perkosaan terus-menerus berlanjut, bahkan orang tua Melati menyebut, ada anggota Polisi yang ikut memperkosa anaknya. "Jadi anak saya sempat dengar, di dalam ruangan tersebut ada anggota Polisi yang dihubungi temannya lewat telephone dan menanyakan posisi keberadaan tempatnya berada saat itu," katanya.
 
 
Kejadian ini membuat korban mengalami depresi kejiwaan yang sangat berat hingga kadang suka berbicara sendiri.
 
 
POLDA SULUT SUDAH PERNAH BIDIK PELAKU
 
Kasus pemerkosaan yang menimpa STC pada 24 Januari 2016, sebelumnya telah diproses pihak Polda Sulut. Informasi yang diperoleh media dari pihak penyidik pada Maret 2016, diakui pelaku yang sebelumnya belum diketahui identitasnya, mulai mengalami titik terang.
 
 
"Kami sementara meminta keterangan dari korban dan dua teman yang menjemputnya," ujar salah seorang penyidik, Selasa (15/3).
 
 
Para pelaku yang awalnya tak dikenali, mulai diketahui identitas dan keberadaannya. "Sudah ada dua yang teridentifikasi, kami segera meringkus mereka," tukasnya.
 
 
Pantauan media, ketika itu korban dan kedua orang temannya tengah diperiksa tim penyidik.
 
 
Namun perkembangan kasus ini tak diketahui lagi hingga ditangani Polda Gorontalo. Publik pun bertanya-tanya, kenapa para terduga pelaku belum diringus hingga kini.
 
 
Menurut pengakuan ibu korban saat jumpa pers akhir pekan lalu di Manado, sebelumnya ia sempat melaporkan kasus ini di Polresta Manado, yang selanjutnya dilimpahkan ke Polda Sulut. Tetapi mengingat kasus ini berada di wilayah Gorontalo, Polda Sulut  melimpahkan kasusnya di Polda Gorontalo.
 
 
"Tapi sampai saat ini belum ada penjelasan terang tentang kasus ini. Polisi seperti mengulur-ulur dan tidak mau melihat kasus ini. Apakah karena ada anggota Polisi yang terlibat sehingga tidak mau mengusut lebih lanjut?" tanya ibu korban dengan nada geram pada awak media.
 
 
KEMENTERIAN P3A KOMIT KAWAL KASUS SILVANY
 
Kementerian P3A berkomitmen akan terus mengawal kasus biadab yang menimpa Melati hingga tuntas. Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian P3A, Prof dr Vennetia Ryckerens Danes, memastikan pihaknya akan mengawal proses hukum kasus ini dan sebisa mungkin memberikan pendampingan hukum bersama Ikadin.
 
 
"Dari penjelasan keluarga, kasus ini dapat tergolong tindak pidana penjualan orang (TPPO) karena unsur-unsurnya sudah terpenuhi, yakni perekrut, pengangkut, penampungan dan penerima manfaat, termasuk pemalsuan dokumen serta keterlibatan oknum yang diduga sebagai penyelenggara negara, yakni oknum polisi," ungkap Danes dalam konferensi pers di Swiss-belHotel Maleosan Manado, Sabtu (7/5). "Mereka ada sindikat. Ini pasti bukan yang pertama dan tentu mereka akan cari mangsa lain," aku perempuan asal Sulut itu dengan dialeg Melayu Manado kental.
 
 
Terendus jika ada ‘orang besar’ di antara para pelaku sehingga itu sulit kasus ini dibongkar. "Saya akan kejar mereka sampai ketemu. Ini orang besar. Kalau orang biasa pasti sudah lama ditangkap," ketus Danes.
 
 
Diakui jika nama-nama pelaku kini sudah dikantongi pihak Kementerian P3A.
 
 
BP3A SULUT IKUT MENGAWAL
 
Kasus pemerkosaan yang dilakukan 19 orang laki-laki terhadap seorang gadis asal Manado ini, ikut diseriusi pemerintah provinsi Sulut. Berbagai tindakan yang bisa dilakukan pun kini intens dilakukan.
 
 
“Sejak kasus ini dilaporkan ke pihak Kepolisian, kami sudah mendampingi korban dengan memberikan pelayanan pendampingan  oleh psikolog dan bantuan hukum gratis. Pada minggu kemarin, kasus dilimpahkan ke Polda Gorontalo karena TKP,” terang Kepala BP3A Sulut, Erny Tumundo.
Inisiatif untuk melaporkan kasus ini ke Kementerian P3A juga telah dilakukan. Sehubungan dengan pelimpahan kasus ke Gorontalo maka kami langsung melaporkan kasus ini ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ini sudah direspon dengan menugaskan Deputi Perlindungan Hak Perempuan untuk mendalami sekaligus bertemu dengan keluarga korban,” paparnya.
 
 
Badan P3A Provinsi Sulut dan Kementerian P3A berkomitmen akan mendorong Polda Gorontalo untuk segera mengungkapkan kasus ini dan menangkap para pelaku yang sampai sekarang masih berkeliaran. (tim me)


Komentar

Populer Hari ini




Terbaru di Manado EXpression

Boltim

Sponsors