Kelompok Santoso Cari Logistik dengan Merampas Hasil Kebun Warga Poso


Manado, ME

Pengikut Majelis Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso alias Abu Wardah saat ini tercatat masih ada sekitar 25 orang. Mereka bersembunyi di tengah lebatnya hutan di Pegunungan Biru yang membentang dari Poso hingga Napu di Palu, Sulawesi Tengah. 

Tim Satuan Tugas Operasi Tinombala gabungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI terus memburu dan mengepung tempat persembunyian kelompok Santoso. Walhasil tak hanya tersesak, kelompok Santoso juga kesulitan mendapatkan pasokan logistik dari para simpatisan. 

Satgas Tinombala melakukan sekat agar simpatisan tak memberi pasokan logistik untuk kelompok Santoso. Sejak Januari 2016 rantai komunikasi juga diputus. Sejumlah pengikut Santoso yang tak tahan berada di tengah hutan pun turun gunung. Ada yang menyerahkan diri atau tertangkap saat hendak mencari makan di perkampungan. 

Dari sejumlah tersangka yang ditangkap, Satgas Tinombala mendapatkan informasi bahwa selama ini kelompok Santoso mencari logistik bahan makanan dengan cara mencuri, merampas dan merampok hasil kebun warga Poso.  Pengakuan itu antara lain didapat dari  Irfan Maulana alias Akil alias Papa Kembar, pengikut Santoso yang menyerahkan diri pada Senin (25/4/2016). 

Akil adalah salah satu pengikut Santoso yang berada di lapisan luar dan mendapat tugas mencari pasokan logistik. 

"Proses pencarian Logistik Santoso menunjuk beberapa orang di antaranya, Akil, Barok, Kholid, Ali Kalora, Romji, Zaid, bersama beberapa orang Uighur untuk datang ke kebun-kebun milik masyarakat untuk mencari, mencuri, merampas, merampok bahan logistik yang berupa beras dan hasil kebun seperti nanas, pisang dan lain-lain," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Ajun Komisaris Besar Hari Suprapto melalui keterangan tertulis, Kamis (28/4/2016). 

Sejak Satgas Tinombala melakukan sistem sekat, kelompok Santoso kesulitan mendapatkan pasokan logistik. Mereka bertahan hidup di hutan dengan mengandalkan makanan yang ada di hutan untuk dikonsumsi, seperti memakan ujung rotan dan ujung batang pohon pinang.


Satgas Tinombala TNI-Polri yang bertugas sebagai tim sekat untuk membatasi ruang gerak kelompok Santoso. (Foto: Erwindar/detikcom)



Selain Akil, akhir Maret lalu satu pengikut Santoso yakni MAQ alias Brother juga turun gunung karena kelaparan. Dia minta makan kepada seorang warga di Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. Saat itulah dia ditangkap oleh Satgas Tinombala. 


(dtk)


Komentar


Sponsors

Life Style

            Mengusung tema integritas yang mumpuni, Tim Dream ...

Sponsors