Wanua Kapataran

Dari Wanua Ure, Daerah Pertahanan Hingga Jalur Suplai Senjata Perang Tondano


Oleh: Rikson Childwan Karundeng

KAPATARAN, sebuah pemukiman tua di tanah Minahasa. Namanya telah dikenal sejak lama. Dari masa Portugis, Spanyol hingga Belanda dan Inggris memasuki wilayah Minahasa. Nama ini sering disebut dan didokumentasikan dalam berbagai catatan orang-orang Eropa yang mengunjungi jazirah utara Celebes di masa itu.

 

Orang-orang Portugis dan Spanyol ketika memasuki Minahasa di abad XV – abad XVIII, menyebutkan jika mereka pernah menginjakkan kaki di sebuah pemukiman bernama Kapataran. Tahun 1817, Joseph Kam, “Rasul Maluku” melakukan perjalanan dari Ambon ke tanah Minahasa. Ia pertama kali menginjakkan kakinya di pantai Kema. Dari Kema ia kemudian berlayar menuju pantai Tondano, pelabuhan Kora-kora, untuk mengunjungi Kapataran. Sebuah tempat yang “spesial” di masa itu.

 

Dari Wanua Ure ke Kapataran
Menurut penuturan masyarakat Kapataran, pemukiman awal leluhur mereka berada di pesisir pantai, tepatnya di pantai Tondano. Di sebuah tanjung yang kemudian hari disebut orang dengan pelabuhan Kora-kora. Nama Kora-kora terkait dengan sebuah peristiwa. Suatu ketika ada perahu besar milik Portugis yang disebut Kora-kora yang hendak merapat di pelabuhan Tondano namun karam. Perahu itu tak bisa dikeluarkan sampai rusak di pesisir pantai ini. Sejak itu, tempat tersebut dikenal dengan Kora-kora.

 

Tou (orang) Kapataran menyebut daerah pantai Kora-kora dengan Wanua Ure (kampung tua). Makam-makam tua yang kini sepi membisu di daerah itu, memberi jawab bahwa daerah tersebut memang pernah dihuni oleh manusia. Masyarakat setempat percaya jika makam-makam itu adalah jejak peninggalan dua tumpukan keluarga, leluhur tou Kapataran yang awalnya menempati daerah tersebut.

 

Gangguan para perompak membuat penduduk Wanua Ure tak betah lagi bertahan di tempat tinggal mereka. Apalagi di tempat itu mereka mulai diserang berbagai wabah penyakit. Kehadiran tou lewo’ (orang jahat) dan reges lewo’ (angin jahat, istilah yang menunjuk pada wabah penyakit yang menyerang masyarakat) terus mengusik. Memaksa mereka pindah ke sebuah tempat yang berjarak kurang lebih 3 km di arah Barat. Sebuah pemukiman yang kemudian hari dikenal dengan Binuangan. Disebut Binuangan oleh orang Kapataran karena tempat itu pernah menjadi lokasi pembuangan orang-orang yang dianggap bermasalah, sering menentang aturan-aturan pemerintah Belanda.

 

“Tu perompak-perompak torang ja bilang Mangindano. Karna dorang sering ja datang menyerang, merampok dan menculik warga di Wanua Ure makanya orang-orang tua bersepakat untuk pindah ke arah gunung agar lebih aman,” terang Wemfrit Watulingas, 80 tahun, tua-tua Kapataran, Sabtu 12 Maret 2016.

 

“Zaman Perompak” merupakan masa yang dialami masyarakat Minahasa sejak pra kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke bumi Malesung (nama “tua” untuk wilayah tanah adat Minahasa). Mangindano atau manga’ai n’dano (orang-orang yang datang lewat air) adalah sebutan orang Minahasa terhadap para perompak dari berbagai daerah di Filipina, sejumlah daerah di wilayah perairan timur Nusantara, termasuk pasukan Kerajaan Mongondow yang datang ke Minahasa melalui jalur laut. Pakar Sejarah Maritim, A.B. Lapian menjelaskan, para perompak yang menguasai wilayah perairan Asia Tenggara di masa itu adalah bajak laut yang berada di kepulauan Sulu, yang terdiri dari tiga kelompok. Tiga kelompok itu adalah kelompok Lanun, Balangingi dan Mindanao. Mereka biasanya merampas harta penduduk, menculik orang untuk dijadikan budak. Aksi itu dilakukan hingga ke wilayah Minahasa.

 

Sebutan lebih tua untuk para perompak dan pandatang dari luar yang memasuki Minahasa sebelum “Zaman Mangindano” adalah Se Wanarou’ (Mereka yang datang dari seberang, datang dari yang jauh). Orang Minahasa juga punya sebutan untuk orang-orang Eropa ketika mereka pertama kali datang ke Minahasa. Sebutan berbeda namun artinya sama dengan dua istilah sebelumnya. Para raindang wu’uk(rambut merah) dikenal dengan Tasicela/Tasikela (Orang-orang yang datang dari arah paka-paka ombak).

 

Binuangan, pemukiman “kedua” tou Kapataran itu juga tak nyaman untuk ditempati. Lokasinya yang berbukit-bukit, sumber air yang dianggap terlalu jauh hingga intaian perompak Mangindano, memaksa penduduk harus kembali bergeser. Sebuah wilayah yang berjarak kurang lebih 2 km ke arah pegunungan, jadi pilihan. Tanah yang rata, sumber air dekat, jadi pertimbangan utama. Daerah ini yang kemudian disebut masyarakat dengan Kapataran (tanah datar). “Sekarang Kapataran kan sudah dua kampung. Kapataran Satu dan Kapataran. Daerah Kapataran Satu, di daerah Sendangan, itu pemukiman orang Kapataran sesudah dari Binuangan. Sejak itu orang tua kita menetap di Kapataran sampai sekarang,” kata Maxi Mokoagouw, 65 tahun, warga Kapataran yang mengaku jika ayahnya berasal dari daerah Bolaang Mongondow dan kemudian menikah dengan gadis Kapataran.

 

Tua-tua Kapataran bernama Heibert Paath, pernah mengisahkan kepada penulis pada tahun 2005, ketika meninggalkan Wanua Ure, ada dua tumpukan masyarakat yang menyingkir ke arah pegunungan. Tumpukan keluarga yang lain memilih tempat yang bernama Tetou (Diambil dari kata Tou si Tou yang berarti seperti manusia). Nama ini dikaitkan dengan sebuah situs, batu berukir seperti manusia di tepi sungai Raker, tepat di daerah yang disebut Tetou. Lokasi itu berada kurang lebih 2,5 km di bagian atas Kapataran (Sendangan).

 

“Mereka tinggal sekian lama di situ namun karena masih merasa tidak nyaman, mereka mencari tempat yang dianggap lebih layak untuk dijadikan pemukiman. Sampailah mereka di tempat bernama Wengkol. Tempat itu di Desa Kapataran bagian atas. Semakin lama pemukiman Wengkol dan Kapataran semakin besar sampai mereka menyambung kedua kampung ini. Pemukiman baru di tengah diberi nama Pasulaten (dari kata Sulat, yang berarti penyambung antara dua kampung yang terpisah),” papar Opa Heibert Paath.

 

Kapataran (Sendangan) dan Wengkol yang kemudian disatukan Pasulaten, akhirnya menjadi sebuah Wanua yang dikenal dengan Kapataran. Setelah dimekarkan, daerah Kapataran (Sendangan) kini menjadi desa Kapataran Satu dan wilayah Wengkol kemudian menjadi Desa Kapataran.

 

Leluhur Tou Kapataran
Siapa-siapa sebenarnya para leluhur awal orang Kapataran, tak lagi diketahui dengan jelas. Namun ada sejumlah nama yang masih tersimpan dalam memori masyarakat setempat. Waruga (makam dari batu tempat menguburkan orang Minahasa dahulu) yang masih berdiri kokoh di tengah Wanua Kapataran adalah makam Dotu (leluhur) Tuturoong. Salah satu leluhur yang diyakini sebagai bagian dari penduduk awal tou Kapataran.

 

“Timukar (sebutan masyarakat untuk waruga) yang ada di kampung Kapataran itu milik Dotu Tuturoong. Ada juga torang pe leluhur tua yang bernama Telew. Kuburannya di Atep (daerah pesisir pantai Kora-kora). Dia sosok yang gagah berani namun meninggal saat berhadapan dengan para perompak Mangindano untuk melindungi penduduk Kapataran. Selain itu ada Dotu Wewengkang,” jelas Maxi Mokoagouw.

 

Masyarakat Kapataran mengisahkan, ketika hidup, Dotu Wewengkang dikenal memiliki banyak pengetahuan. Makamnya ditandai dengan sebuah batu yang kini berada di badan jalan, di wilayah Sendangan Kapataran. Di sekitar tahun 1960-an, masyarakat mendengar akan ada pelebaran jalan sehingga sekelompok masyarakat bermaksud memindahkan batu tersebut.

 

“Heran, saat batu itu dipindahkan, di waktu bersamaan banyak yang meninggal di kampung. Satu hari, dua sampai tiga orang dan itu terjadi setiap hari. Baru pi kubur tu laeng, so ada lagi yang meninggal. Masyarakat kemudian mengait-ngaitkan peristiwa itu dengan pemindahan batu Dotu Wewengkang. Apalagi batu itu dipindahkan begitu saja tanpa melalui upacara adat,” kisah Mokoagouw yang dibenarkan Opa Wemfrit Watulingas.

 

Batu Dotu Wewengkang akhirnya dipindahkan kembali ke tempat semula. Usai dipindahkan, “kematian beruntun” berhenti. “Masyarakat pun semakin yakin jika peristiwa itu terjadi memang karena sikap kurang ajar kita yang memindahkan batu itu. Batu itu kini tertimbun di badan jalan. Masyarakat menandainya dengan tanaman tawaang,” kata Mokoangouw.

 

Menurut Wemfrit Watulingas, Dotu Wewengkang memang sangat dikenal masyarakat sejak dahulu. Dia sosok yang dianggap penting oleh orang Kapataran pada masanya. “Dotu Wewengkang itu sebenarnya bernama Makal Wewengkang. Sebagian orang mengenalnya dengan Tete Makal. Dia memiliki banyak pengetahuan, sangat kuat. Bisa memukul musuh dengan mudah karena pengetahuannya itu. Ada kisah, suatu ketika sebuah pohon yang depe basar lima orang mo polo, mo rubuh di jalan dekat Seretan. Orang-orang yang biasa melintasi jalur itu ke arah Tondano pun panik. Khawatir pohon itu akan menghalangi jalan. Namun dengan sekali pukul, Tete Makal bisa merobohkan pohon itu ke arah berlawanan,” tutur Watulingas.

 

Mantan Hukum Tua Desa Kapataran ini juga menceritakan jika banyak kisah kepahlawanan Dotu Wewengkang yang masih ada dalam ingatan orang Kapataran. “Salah satu cerita, dahulu jika hendak beraktivitas di pantai Kora-kora, orang Kapataran harus berjalan beramai-ramai untuk mengantisipasi serangan para perompak Mangindano. Tapi Dotu Wewengkang biasa hanya berjalan sendiri ke sana. Beberapa kali ia bersua dengan Mangindano namun berhasil dikalahkaannya walau hanya sendiri,” sambung Watulingas.

 

Di Kapataran juga terdapat peti-peti batu. Sisa peninggalan Kapataran “tempo dulu” itu berserakan di sekitar gedung gereja GMIM Kapataran. Sejumlah warga menyebutkan, daerah itu memang lokasi pekuburan tua. Maxi Mokoagouw menjelaskan, dalam ingatan masyarakat, peti-peti batu itu merupakan peninggalan leluhur tou Kapataran yang berasal dari Kakas.

 

Masuknya Bangsa Eropa di Kapataran
Sebelum tahun 1600-an, bangsa Portugis dan Spanyol telah memasuki daerah Kapataran. Biasanya, dari pelabuhan Kema, kapal mereka menyusuri pantai hingga tiba di pelabuhan Tondano. Kebutuhan beras untuk logistik pasukan dan kebutuhan bahan lain yang biasa ada pada masyarakat Minahasa, membuat orang-orang Portugis dan Spanyol membangun komunikasi dengan orang-orang Kapataran.

 

Di pelabuhan Tondano, orang-orang Portugis dan kemudian Spanyol membangun benteng, gudang-gudang beras untuk menampung beras hasil barter dengan para penduduk Minahasa di seputaran danau Tondano. Pelabuhan itu kemudian menjadi sangat ramai. Jalur transportasi utama untuk suplai berbagai barang hasil barter kedua belah pihak, dilakukan dari Tondano hingga Kapataran. Kapataran menjadi salah satu tempat penting. Tak heran, banyak orang Portugis yang tinggal menetap di Wanua ini.

 

Lama-kelamaan pelabuhan Tondano menjadi ramai dengan aktivitas perdagangan antara orang-orang dari benua Eropa itu dengan orang-orang Tondano. Sejumlah peninggalan orang-orang Portugis dan Spanyol hingga kini masih bisa dilihat di Kapataran. Ada situs, makam orang-orang bermarga Portugis, termasuk keturunan hasil perkawinan dengan masyarakat Kapataran. Salah satu keluarga besar keturunan Eropa di Kapataran bermarga Hermanus.

 

“Di Kapataran banyak sekali situs peninggalan sejak zaman Portugis sampai Belanda. Salah satunya yang berada di ujung Timur Desa Kapataran, dekat pekuburan umum. Di situs ini ada ukiran bergambar singa, ada yang bertuliskan Residen S.J. Jelesma. Situs-situs ini sudah didata Balai Pelestarian Cagar Budaya,” terang Fernando Lompoliu, warga Kapataran yang dipercayakan Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, wilayah kerja Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah, untuk mengurus situs tersebut.

 

Lokasi situs berbentuk singa seperti pada lambang kerajaan Spanyol dan Belanda tersebut tepat berada di depan halaman rumah yang ditempati Fernando Lompoliu. Di samping situs itu terdapat batu yang bertuliskan angka 1813 dan sebuah batu lain yang bertuliskan 20 Okt 1894 TB. RESIDENT E.J. JELESMA ADA DI SINI.

 

Ukiran batu serupa terdapat di belakang rumah keluarga Watulingas-Kambey. Di tampat itu ada reruntuhan bangunan permanen. Menurut warga setempat, bangunan itu peninggalan Belanda. Beberapa bagian bangunan terdapat sejumlah batu berukir singa yang memegang pedang seperti dalam lambang kerajaan Belanda. “Bangunan itu dulu masih berdiri utuh. Mungkin tempat tinggal, gudang atau benteng pertahanan orang Belanda. Cuma tahun 1980-an bangunan itu roboh karena gempa bumi,” kata Opa Wemfrit Watulingas.

 

Opa Heibert Paath, menuturkan jika kedatangan Residen E.J. Jelesma di Kapataran masih sempat disaksikan oleh opanya yang bernama Ertus Sumampou. “Desa Kapataran sempat mendapat penghargaan dari pemerintah Belanda. Makanya, tahun 1894 Residen E.J. Jelesma berkunjung ke Kapataran. Momen kehadirannya di Kapataran diukir pada batu yang berada di ujung kampung Kapataran,” terangnya.

 

Orang-orang Belanda banyak yang tinggal menetap di Kapataran. Salah satunya bernama Korelia. “Korelia ini punya kontrak kebun yang sangat besar di Kapataran. Perkebunannya berada di daerah Leos. Sejak masa Portugis sampai Belanda, jalur Kora-kora, Kapataran, Tondano memang ramai. Di zaman Belanda, ada pos tentara Belanda di Kora-kora. Tak heran banyak orang Belanda yang tinggal di daerah Kapataran sampai Tondano,” sambung Paath.

 

Bulan April 1817, “Rasul Maluku” Ds. Joseph Kam tiba di Kema. Dari Kema kemudian ia mengunjungi Kapataran. Data menyebutkan, di Kapataran ia sempat membaptis 26 orang. Sesudah itu, seorang Guru Injil ia tempatkan di situ. Pada bulan Februari tahun 1819, datang lagi seorang pendeta Belanda bernama Ds. D. Lenting. Ia ke Kapataran untuk mengunjungi keluarganya dari Belanda yang menetap di situ. Sejumlah data mencatat, di tahun 1819 itu, Ds. D. Lenting kemudian membaptis 539 orang di Negeri Kapataran, Distrik Tondano-Touliang.

 

Komunikasi orang-orang Portugis dan Spanyol dengan orang-orang Minahasa berakhir di sekitar tahun 1660. Saat itu orang-orang Belanda telah memasuki Minahasa. Mereka kemudian mengusir saingan mereka sesama penduduk benua Eropa. Pelabuhan Tondano pun dikuasai. Daerah perdagangan itu berpindah tangan ke Belanda.

 

“Pantai Kora-kora tetap menjadi pelabuhan penting Belanda. Saya sendiri masih sempat menyaksikan kapal-kapal Belanda datang mengangkut barang-barang di pantai Kora-kora. Kehadiran kapal-kapal itu nanti berhenti pada saat masa Perang Dunia Kedua,” ungkap Heibert Paath.

 

Kapataran, Geret Wuisang dan Suplai Senjata Perang Tondano
Hubungan baik antara orang-orang Minahasa dan bangsa Belanda perlahan mulai kendur. Prilaku tidak jujur saat melakukan barter dan sikap arogan orang-orang Belanda terhadap masyarakat Minahasa, jadi pemicu. Sejarawan Sulawesi Utara, Fendy Parengkuan, menjelaskan jika rasa sakit hati orang Minahasa menumpuk hingga kesabaran tak bisa ditahan lagi. Puncaknya, meletuslah “Perang Tondano” tahun 1808. Orang Minahasa tak mau lagi ditipu, didustai, diancam-ancam.

 

“Setiap melakukan barter, pihak Belanda di benteng Fort Amsterdam (Kompleks Jumbo Supermarket Manado sekarang) selalu tingkiloy (tidak adil/berat sebelah). Padahal orang Minahasa melakukan tradisitamber, memberi beras lebih dari yang disepakati. Eskalasi ketegangan itu terus memuncak hingga Perang Tondano terjadi. Di Tondano, kemarahan masyarakat memuncak ketika Ukung Pangalila, Kepala Walak Tondano dibunuh Belanda di Fort Amsterdam sekitar tahun1790. Ia dibunuh karena datang ke benteng atas nama rakyatnya untuk menyampaikan keberatan orang-orang Tondano atas prilaku orang Belanda dan sikap mereka untuk memutuskan perjanjian yang telah dibangun bersama Belanda jauh sebelum itu,” papar Parengkuan.

 

Di akhir tahun 1700-an itu, salah seorang yang dikenal sangat kuat menentang Belanda di Tondano bernama Geret Wuisang, datang dan menetap di Kapataran. Kehadiran Wuisang bersama sejumlah pengikutnya, menyuktik semangat bagi tou Kapataran. Sosok yang gagah berani itu memimpin masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap setiap ancaman yang datang.

 

Masyarakat Kapataran menyebutkan, Geret Wuisang dan beberapa orang yang bersama dengan dia memang sengaja berada di Kapataran. Pertama karena ketegangan dengan pihak Belanda. Kedua, untuk melakukan komunikasi dengan orang-orang Inggris di pantai Tondano. Geret Wuisang kemudian mencapai kesepakatan dengan pihak Inggris. Orang Tondano menyediakan beras dan orang Inggris menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk senjata.

 

Sebuah sumber menyebutkan, sebagian meriam dari dalam Minawanua Tondano diambil orang-orang Tondano dari benteng Belanda di Pinaesaan (Kawasan Bahu Mall sekarang). Sementara, sebagian senjata dibawa lari orang-orang Tondano Bawah (pemukiman orang-orang Tondano di sekitar Benteng Fort Amsterdam. Daerah sekitar Kelurahan Mahakeret Manado kini, lokasi dimana gudang penampungan beras berdiri sebelum bahan itu dibarter dengan Belanda) yang mengikuti pasukan Belanda yang hendak menyerang ke Minawanua. Mereka pura-pura menyatu dengan pasukan itu namun di tengah jalan mereka membawa lari senjata dan amunisi kemudian melalui hutan dan tiba lebih dulu di Minawanua. Hal itu tak diduga pihak Belanda. Makanya, saat memasuki Tondano, dari arah Koya, pasukan Belanda terkejut dengan serangan dari dalam Moraya, Minawanua. Tembakan senapan hingga meriam terdengar dari dalam. Namun data lain menyebutkan jika sebagian senjata di Moraya, Minawanua adalah buah komunikasi orang-orang Tondano dengan pihak Inggris di pantai Tondano.

 

Pakar Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Unsrat, Fendy Parengkuan, menjelaskan jika saat itu Inggris memang sudah intens merapat di pesisir pantai Tondano dan membujuk orang Minahasa agar melakukan barter dengan mereka. “Sebelum perang Tondano bergelora, Inggris memang sudah intens melakukan komunikasi dengan orang-orang Minahasa di pesisir Danau Tondano. Mereka membujuk agar bisa bekerja sama dengan mereka sehingga beras dibarter dengan Inggris. Pantai Tondano memang jadi jalur masuk. Sehingga suplai senjata sudah mulai terjadi ketika itu. Makanya, ketika membangun perlawanan terhadap Belanda, orang Minahasa semakin yakin karena senjata dan amunisi memang sudah tersedia,” kata Parengkuan.

 

Penulis sejarah Kapataran, Heibert Paath, mengungkapkan jika masyarakat Kapataran masih menyimpan kisah tentang orang-orang Inggris yang melakukan komunikasi dengan Geret Wuisang bersama orang-orang Kapataran. Mereka memasok senjata ke orang-orang Tondano jelang masa Perang Tondano. Senjata dikirim melewati jalan tuturuga (penyu). Jalan seperti punggung penyu, bagian tengah jalan timbul sedikit sehingga saat hujan airnya jatuh ke samping.

 

“Pada permulaan tahun 1800-an, Kapataran menjadi jalur suplai senjata ke Tondano. Dari wilayah Filipina, mereka masuk melalui Atep di Pantai Tondano. Dari Atep ke Kapataran baru lanjut ke Tondano. Pantai Tondano dan jalur ini baru dikuasai Belanda setelah Perang Tondano usai,” jelas Paath.

 

Orang-Orang Kapataran terlibat aktif membantu pemimpin mereka, Geret Wuisang, untuk mengangkut berbagai keperluan ke Minawanua Tondano, bahan-bahan hasil barter dengan pihak Inggris. Termasuk senjata yang diperlukan. Perang Tondano sudah diperkirakan akan terjadi. Karena itu, berbagai persiapan sudah dilakukan orang-orang Tondano. Senjata sudah mulai dikumpulkan untuk mengimbangi persenjataan pasukan Belanda. Geret Wuisang berperan penting dalam tugas itu.

 

Membangun Benteng Pertahanan di Tanah Rata
Kedamaian di Kapataran tak berlangsung lama. Usai masa Dotu Wewengkang, para perompak Mangindanou mulai mengetahui letak pemukiman masyarakat di daerah tersebut. Kontak fisik tak terhindarkan. Serangan demi serangan perlahan mulai terjadi. Pengalaman itu tejadi sampai orang-orang Portugis sudah berada di Kapataran. Namun, kali ini masyarakat Kapataran sudah enggan untuk meninggalkan Kapataran. Mereka mulai berupaya untuk mempertahankan diri di tempat itu.

 

Di masa Geret Wuisan, masyarakat Kapataran membangun sebuah rumah besar dengan satu tiang. Rumah itu dapat menampung beberapa ratus orang. Ketika malam tiba, mereka menyatu di rumah tersebut. Karena orang-orang Mangindano biasa menyerang malam hari. “Rumah satu tiang itu dibuat dengan satu tangga. Ketika malam hari, tangga itu diangkat. Sehingga tak ada tempat untuk naik. Di rumah itu tetap ada celah di antara papan lantai. Di lubang-lubang itu biasa masyarakat mengawasi kalau ada gerakan mencurigakan di bawah,” jelas tua-tua Kapataran, Wemfrit Watulingas.

 

“Senjata yang dipakai masyarakat saat malam adalah kekeresoten. Air dicampur cabe dan abu dodika dan diisi ke dalam sebilah bambu kecil. Ada juga kayu kecil dengan kain yang dimasukkan ke bambu berisi air itu. Kalau ada Mangindano yang coba mengintip di celah papan lantai, langsung disemprot dengankekeresoten. Pas kena mata, itu langsung membuat mereka panik dan lari tunggang-langgang,” sambung Watulingas.

 

Di Kapataran sekarang masih berdiri sebuah rumah tua berumur ratusan tahun. Rumah yang kini ditempati keluarga Watulingas-Kambey itu, menurut warga adalah rumah pertahanan terakhir orang Kapataran di era Mangindano yang masih berdiri kokoh. Rumah itu menjadi saksi perlawanan tou Kapataran terhadap para perompak Mangindano yang sering mengusik.

 

“Bahan rumah ini umumnya masih asli. Kayunya belum diganti sejak zaman Mangindano. Kecuali atapnya. Perabotan tua juga masih ada yang tersisa. Ada meja yang usianya sudah sekitar 200 tahun lebih. Menurut opa saya, di masa opa dari opa saya, rumah ini sudah ditempati keluarga kami,” ujar Aser Watulingas, sembari menjelaskan jika opanya lahir awal tahun 1900-an.

 

Selain membangun rumah pertahanan, tou Kapataran juga menanam jenis bambu berduri di jalur-jalur tertentu, untuk menghalangi gerak para perompak. “Orang tua kita menanam bambu yang yang biasa torang bilang papusungen (bambu halus berduri). Itu juga digunakan sebagai pertahanan untuk menghambat orang jahat yang mau merampas dan menculik penduduk. Bambu itu kalau kena tubuh sangat perih,” terang Wemfrit Watulingas.

 

Semangat perlawanan Geret Wuisang telah menular ke masyarakat Kapataran. Semangat Perang Tondano tetap berada dalam jiwa tou Kapataran. Semangat untuk mempertahankan tanah tempat berpijak adalah pilihan yang tak bisa ditawar. Karena itu, setiap ancaman yang datang akan selalu dilawan.

 

Heibert Paath mengisahkan, di era Geret Wuisan, pertahanan masyarakat Kapataran sudah semakin kuat. Namun, sesudah itu terjadi peristiwa mengerikan yang tak pernah dilupakan tou Kapataran. Suatu sore, Mangindano bermaksud menyerang Kapataran tapi saat baru berada di daerah perkebunan penduduk, mereka berhasil menangkap seorang bernama Sekek Sumampou.

 

Kabar itu sampai di telinga orang-orang Kapataran. Maka pagi-pagi benar, banyak warga dikerahkan dan beramai-ramai mereka mengejar para perompak itu. Mereka kemudian mendapati para Mangindano berada di pesisir pantai, sebelah Selatan Atep Kayuroya. Melihat kedatangan orang-orang Kapataran, para perompak langsung melarikan diri tetapi satu buah kaki manusia yang telah dibakar tertinggal di tempat itu. Peristiwa ini membuat orang-orang Kapataran semakin mawas dan memperketat penjagaan di wilayah mereka.

 

Banyak kisah yang tersimpan di Wanua Kapataran. Leluri-leluri hingga situs-situs sejarah budaya yang masih berdiri kokoh di wilayah ini, cukup memberi jawaban. Salah satu bukti peradaban tou Minahasa, sejak era Se Wanarou, Mangindano hingga Tasikela. Peninggalan-peninggalan masa lampau yang sangat berharga. Namun ada ancaman serius terhadap situs-situs di Kapataran jika masyarakat sendiri tak mampu menjaganya. Waruga Dotu Tuturoong misalnya. Waruga yang berdiri di atas batu itu sudah mulai hancur. Menurut masyarakat setempat, itu sengaja dihancurkan oleh orang tertentu. (***)


Komentar


Sponsors

Life Style

            Mengusung tema integritas yang mumpuni, Tim Dream ...

Sponsors