Membangkitkan Eksistensi Seni Teater di Sekolahan


Tompaso, ME

Eksistensi teater di Sulawesi Utara (Sulut) semakin ramai terutama di kalangan anak kampus. Keadaan ini berbeda dengan perkembangan teater di lapisan masyarakat perkotaan dan pedesaan.

Terutama di kalangan sekolah-sekolah, masih kurang. Konsisi tersebut telah merangsang semangat para seniman untuk membangkitakan eksistensi seni teater di sekolahan sedang 'ternina-bobokan'.

Ungkapan ini dituturkan oleh Seniman Muda Sulut, Alfrits Ken Oroh saat bersua dengan Manado Express, Jumat di Tompaso Minahasa, Senin (8/2).

"Pernah, beberapa iven digiatkan di sekolah-sekolah tapi tidak berkembang. Mungkin pengaruh pemerintah yang kurang menyosialisasikannya. Pada akhirnya, eksistensi teater di sekolahan agak sedikit tenggelam," ungkap Oroh yang juga pelatih teater.

Oroh mengatakan, pengalaman ketika merantau, seni teater menjadi sangat populer di Bali. Indikatornya, sekolahan di Bali memiliki kesadaran tinggi tentang seni teater. Memahami teater bukan sekedar hobi tapi bagian dari pendidikan karakter siswa.

“Ketika teater lahir di sekolah, ada nilai tambah dalam hal pendidikan karakter siswa. Sebaliknya, sekolahan tanpa teater, pendidikan karakter bagi siswa kurang. Imbasnya banyak timbul tawuran siswa," jelasnya.

Menurutnya, seni teater di sekolahan perlu dibangkitakan dan sangat penting diseriusi. Bukan hanya untuk kepentingan lomba dalam iven-iven festival.

“Teater terlahir bukan hanya untuk festival atau pagelaran belaka, melainkan wadah pendidikan karakter manusia dan potensi lain yang dimilikinya dapat dikembangkan lewat seni teater,” tandas Oroh yang juga personil di Konsen Minahasa.

Dikabarkan, telah lahir teater pelajar/sekolah yang baru di Minahasa Selatan. Bernama Flas Clas Theater yang berasal dari Sekolah Menengah Kartini Pinamorongan. Dibentuk atas prakarsa Oroh pada 3 Februari 2016. (hendra mokorowu)


Komentar


Sponsors

Life Style

            Mengusung tema integritas yang mumpuni, Tim Dream ...

Sponsors